Jumat, 01 September 2017

Aku Injak Kamu Teriak

“Dasar jelek!”
“Kau lebih buruk!”
“Haram kalian lewati kampung kami!”
“Otak dengkul!”
“Kepala kosong!”
“Tak sudi kami lewat kampung sampah ini!”

Sudah berapa tahun berlalu tapi caci-maki, umpat-mengumpat, sampai lempar-melempar batu pun tak kunjung juga mencapai garis finish-nya. Apakah masyarakat sudah benar-benar keracunan pecin? Mereka benar-benar tak bisa berpikir jernih lagi! Argh, hal kecil yang seharusnya tak menjadi masalah justru dibesar-besarkan tanpa tersisa satu pun orang yang dapat menyurutkan masalah itu.

Urat wajahku menegang. Guratan kekesalan tercetak jelas di mukaku. Kaki yang terus membuka menutup pun akhirnya sampai pada tempat yang sangat ingin aku kunjungi. Jauh dari suara-suara menyedihkan yang saling beradu mulut tadi. Senyuman hangatnya kontan meyambutku. Luntur sudah segala macam gejolak emosi dalam dada.

“Halo, Pak,” sapaku yang dibalas anggukan darinya. “Sudah lama saya tak berkunjung ke rumah Bapak.” Ia tersenyum dan mengusap kepalaku sekilas.

Kuhempaskan napas panjang berusaha menenangkan diri. “Pak, saya sudah tak betah lagi tinggal di kampung!” aduku dengan bibir mengerucut.

Dengusan geli pun keluar dari bibir Bapak namun tak kuhiraukan. Rasaku terlalu menggebu untuk melaporkan semua hal pada Bapak.
Jadi begini kronologisnya!
******

Kampung Kami dan Kampung Mereka hanya dibatasi oleh parit kecil guna pengairan sawah yang kini bahkan sudah tak nampak lagi tertutup tanah. Awalnya, Kampung Kami begitu akur dengan Kampung Mereka. Semua cinta kedamaian, selalu menyapa saat berpapasan, bahkan tak ada yang kenal tawuran. Begitu indah, tenteram, dan nyaman.

Namun, semua itu berubah saat Negara Api menyerang.

Ha-ha, aku tidak sedang bercanda. Percikan api yang hanya bermula dari satu mulut benar-benar merusak semuanya.

Hari itu, Kampung Kami dan Kampung Mereka mengadakan rapat mengenai pembangunan jembatan menuju kota. Satu daerah yang sudah maju dibanding kampung kami. Sarana pendidikan, kesehatan, pembangkit listrik, semuanya dibangun di sana. Salah satu aktivis pemuda yang mengusulkan hal itu karena warga kampung memang sudah lelah harus menyebrangi sungai yang berbatu-batu. Tak jarang memakan korban, terhanyut aliran deras. Usulan yang begitu brilian.

Namun, kekacauan pun terjadi saat hari pembangunan. Salah seorang tetua di Kampung Mereka dengan lantangnya berkata bahwa ia tak setuju bila jembatan dibangun dengan besi. Perwakilan dari Kampung Kami pun tertegun, tak mau kalah. Ia berorasi bahwa jembatan ini harus dibuat dari besi bukannya kayu jati seperti yang Tetua itu minta. Tetua ternyata tak rela bila pendapatnya dibuang begitu saja. Ia kembali melawan perkataan Perwakilan.

Suasana bersitegang tak dapat dielakkan. Dan demi kelancaran acara, terpaksa, hari pembangunan diundur dengan maksud agar masyarakat bisa memakai kepala dingin untuk mengambil keputusan.

Sayangnya, orang itu telah salah bicara. Masyarakat malah menangkap maksud arti dari kepala dingin itu sebagai kepala sekeras es batu bukannya kepala yang tenang dan rasional. Lihat saja, Tetua malah terus mendumel pada warganya dan secara tak langsung ia menarik warga Kampung Mereka untuk masuk ke dalam satu perangkap mengerikan. Perangkap kebodohan. Satu serigala melolong, serigala lain akan mengikuti tanpa tahu alasannya.

Tetua yang merasa sudah direndahkan oleh Perwakilan pun, resmi mengibarkan bendera perang. “Bila warga kampung kalian tak ingin menuruti keinginan kampung kami, batalkan saja pembuatan jembatan ini! Kami mampu membangunnya sendiri!”

Perwakilan dibuat gelagapan. Bukan seperti ini maksudnya. Ia masih berusaha tenang untuk menjawab namun terus disanggah oleh Tetua yang masih kukuh pendirian. Akhirnya, warga Kampung Kami dibuat muak akan tingkah Tetua. Melesatlah isyarat kembang api, perang diterima.

*****

Semakin kacau saja keadaan kampung. Ini hanya soal pembangunan jembatan dibuat dari bahan besi atau kayu jati. Tapi mengapa kini Kampung Mereka benar-benar mengisolasi daerahnya? Tak ada lagi gotong royong, salam-sapa, dan hubungan kekerabatan yang terjalin. Semuanya putus, akibat jembatan. Sungguh ironi.

Warga Kampung Kami dibuat kelimpungan. Mereka harus memutar jauh sekali melewati jalanan berlumpur untuk sampai di kota. Tak ada jalur lain yang bisa mereka lewati, selain Kampung Mereka. Aku tidak tahu apakah ini ulah Tetua atau bukan, yang jelas Kampung Mereka benar-benar dijaga super ketat di tiap sisi. Tak ada satu orang pun warga Kampung Kami yang boleh melintasi batas teritorial mereka. Atau mereka akan terkena hukuman. Dikeroyok, dan tak sedikit dijarah hartanya. Kampung Mereka merasa berkuasa di atas segala-galanya.

Apa sebenarnya yang sudah meracuni pikiran mereka semua? Perbedaan pendapat adalah hal umum yang pasti akan terjadi dalam setiap perdebatan. Kemanakah adat dan adab bermasyarakat? Mengapa begitu mudah mereka meninggalkan ajaran nenek moyang? Sebenarnya, ada di mana toleransi itu? Di mana ia bersembunyi?

Mungkin, Sang Toleransi terlalu takut untuk menampakkan diri melihat kekejaman para manusia. Toleransi tak punya daya untuk bergerak bila manusianya pun tak rela didatangi olehnya. Toleransi sudah tak dapat tempat lagi dalam hati manusia. Tempatnya tersisihkan oleh besarnya ego dan keserakahan.

*******

Pak, kau masih mendengarku, kan? Kau terlihat begitu mengantuk. Bapak menjawab dengan senyuman khasnya, di saat daya matanya tinggal satu bar lagi. Bapak pun menitahku untuk melanjutkan kisahnya. Aku mengangguk antusias.

Selama bertahun-tahun, tak ada yang dapat mengatasi hal ini. Entah karena terlalu takut berurusan dengan Kampung Mereka atau memang tidak peduli lagi karena sudah terlalu lelah. Aku tidak tahu yang benar di antara keduanya, karena aku punya pendapat lain.

Hal ini terus berlanjut, karena tak adanya kekuatan yang bisa mendobrak kekuasaan Kampung Mereka. Para Petinggi sesekali datang untuk mengecek—atau hanya pamer wajah saja, entahlah. Aku terlalu sibuk untuk peduli terhadap hal itu—keadaan Kampung Kami dan Kampung Mereka.

Dasar bermuka dua! Dengan eloknya mereka sembunyikan segala eksistensi buruk agar terlihat baik di mata Para Petinggi. Mereka tahu hal itu salah dan akan berdampak bila sampai ketahuan Para Petinggi, jadi mereka menyembunyikannya. Ha, semakin kentara saja sifat buruk mereka.

Warga kami sempat memohon pada Para Petinggi untuk menghentikan perdebatan alot ini. Namun, bisa kalian tebak. Tak ada satu kata pun yang dipercaya oleh Para Petinggi. Mereka sudah disuap oleh jamuan makanan yang lezat di kampung sebelah. Tak ada alasan bagi mereka untuk membantu Kampung Kami. Ah, ini sangat menyedihkan.

Ada benang tipis yang memisahkan Kampung Kami dan Kampung Mereka. Setipis itu sampai-sampai sulit sekali untuk dipotong. Bagai mencari jerami di tumpukan paku. Ya, semakin dicari semakin terluka dirimu.
Mulanya hanya perbedaan pendapat, tapi sekarang mulai merambat ke hal lainnya. Mereka saling adu mulut dan menyindir betapa menyedihkannya keadaan Kampung Kami dengan banyaknya anak kecil yang buta huruf akibat terlalu lelah untuk pulang-pergi ke sekolah, betapa buruknya fasilitas yang kurang memadai untuk pelayanan kesehatan dan air, dan sulitnya kami untuk menggunakan transportasi. Alhasil, banyak para pedagang yang enggan mendatangi Kampung Kami, para teknisi listrik pun merasa malas jika ada keluhan. Dan kami, hanya bisa mengelus dada di bawah olokan mereka.

********

Kuregangkan leher dan kuputar pinggangku ke kanan dan ke kiri. Pegal.

Pak, menurutmu apa masih ada yang namanya toleransi? Menurutku, sudah tak ada lagi, Pak. Tak ada yang dapat menghargai perbedaan. Pihak satu yang terlalu serakah dan pihak kedua yang seakan mati rasa sehingga meniadakan keberadannya.” Aku mendecap sembari mengusap rambut hitam cepakku bak iklan sampo di televisi.

Kubuang pandanganku pada perbatasan yang tak jauh dari tempatku berdiri. Seutas tali yang dibentangkan menjadi satu-satunya batas paling tipis selain benteng-benteng di sekeliling Kampung yang baru beres setengahnya. Mereka benar-benar kelewatan. 

Menghargai perbedaan itu bermakna kesadaran akan adanya keberagaman yang mustahil bisa disama-ratakan. Bukan menyamaratakan perbedaan,” desahku merasa iba pada keadaan kampung.
Bapak menyimpan tangannya di sebelah pundakku, mengelusnya, memberi semangat. Aku tersenyum kecil sebelum kupandangi Bapak.

“Ini giliran saya, Pak,” cetusku. Kulihat lipatan di sekitar kening Bapak. Senyumku melebar. Kurapikan seragam dinas yang sudah melekat di tubuhku sedari tadi. Kusombongkan diriku dengan dagu yang sedikit terangkat.

“Saya baru saja dilantik menjadi Kepala Desa, Pak. Hebat, kan?” Aku tertawa bangga sendirian. “Untuk merubah sesuatu, kita harus punya kekuatan dan posisi yang bisa membuat suara kita didengar banyak orang. Saya benar, kan, Pak?” tuntutku yang dibalas anggukan pelan.

“Saya berjanji takkan menjadi Para Petinggi yang tak tahu menahu soal daerah yang dipimpinnya sendiri. Saya akan merukunkan dua kampung ini, Pak! Tak usah bermuluk merintaskan Negeri! Dua kampung saja sudah cukup sulit untuk dikendalikan. Mulailah dari hal kecil, hal yang dekat dengan kita, dan mulailah dari sekarang. Tak pernah luntur ajaranmu di kepala saya, Pak. Terima kasih atas segalanya.”

Bapak tersenyum untuk yang terakhir kalinya. Di pekarangan luas dengan batu nisan yang tertancap di atas gundukan. Bapak kembali terlelap dalam rumahnya setelah menyambutku.

Kusiramkan air di atas tanahnya dan kutarburkan kembang tujuh rupa. Kupanjatkan doa padanya dan berakhir dengan usapan di wajahku. “Selamat tinggal, Pak. Saya pergi dulu. Saya akan wujudkan impian Bapak yang tak sempat terealisasi waktu dulu. Kau telah gugur diracuni karena memperjuangkan kerukunan antar-kampung. Saya tidak akan biarkan hal itu menimpa saya, Pak. Saya pamit.”

Andaikan Bapak masih ada, ia pasti sudah memelukku erat dan menepuk punggungku bersemengat. Aku tersenyum saat melangkah berniat kembali ke kantor desa. Terasa getaran di saku celanaku. Kurogoh saku dan segera kuangkat panggilan dari kantor.

“Halo?” Telingaku mendengar suara seberang namun mataku kian melebar melihat koin lima ratus rupiahyang sepertinya terjatuh dari sakumenggelinding meninggalkan pemiliknya. “Iya, baik. Lalu?”

Kakiku terus melangkah mengikuti koin itu sembari menjawab panggilan. Koin pun tergeletak cantik di tanah.

“Iya, saya segera ke sana.” Sambungan telepon terputus. Kumasukkan ponsel ke dalam saku sembari menekuk lutut mengambil koin lima ratus rupiah. Kuangkat itu ke depan wajahku dan saat kuturunkan, aku tertegun.

Apa aku telah melakukan kesalahan?

Segera kuputar kepala dan hembusan napas pasrah pun lolos dari bibir. Aku telah melewati tali perbatasan yang langsung menyalakan alarmbukan alarm sebenarnyadi pos keamanan Kampung Mereka. Beberapa pasang kaki sontak terburu mendekatiku, berwajah garang, mata melotot.

Keningku mengerut prihatin. “Pak, kapan toleransi benar-benar ada?”

“WOY!!!”

**********